tugas Filsafat
KISRUH EMAS POBOYA
Poboya, Kelurahan yang terletak diujung Timur kota Palu ini,kian hari, kian santer di perbincangkan oleh masyarakat kota Palu bahkan hingga ke luar daerah. Yang mengusuk dan menyedot perhatian masyarakat pada umumnya berada di Kelurahan ini yakni tambang emas.
Sejak dahulu memang wilayahinitelah diketahui memiliki kandungan emas. Jikapada akhir tahun 2008, kita berkunjung ke areal pertambangan warga,maka kita akan memndapati 10 hingga 20 orang mendulang emas di sepanjang aliran sungai Poboya.
Namun, ketika tim SILO mengunjungi tempat ini pada pertengahan bulan Juli 2009 lau, pemandangan yang sangat mengejutkan menyambut media ini. Saat memasuki areal pertambangan diujung perkampunagn, pintu gerbang danagn pos retribusi telah menghadang. Denagn membyar retribusi sebesar Rp 10.000, puluhan kendaran bermotor dan mobil rela berjejal, menunggu antrian masuk keareal pertyambangan. Areal pertambangan masih berjarak sekitar 3 kilo meter ke hulu sungai daripintu masuk ini. Menurut pengakuan Lurah Poboya ini, saat ini sekitar 7.000 orang penambang emas beroprasi diwilayah ini. Sungguh angka yang mengejutkan.
Para penambang yang terdiri dari wargfa Poboya, kota Palu dan sekitrarnya hingga ke luar daerah seperti Manado, Gorontalo, Kendari, bahkan ada yang dari Kalimantan. Lantas apa yang membuat aktivitas pertambangan di wilayah ini meningkat dratis hanya dalam waktu beberapa bulan. Tambang emas Poboya oleh masyarakat dari dulu diolah secara tradisonal disungai menggunakan alat dulang manual. Namun seiring perkembangan saat ini tak seorang pun masyarakat pengolah mendulang emas di sungai, semua sudah beralih ke bukit yang berjarak sekitar 3 kilometer dari perkampungan.
Menurut Ali Djaludin, ketua Dewan Adat Poboya, awal mulanya penambangan missal di kampungnya adalah saat tiga orang tenaga ahli pertambangan rakyat dari Sulawesi Tengah di temani oleh seorang warga setempat meneliti kandungan emas di sekitar bukit Poboya. Ketiganya adalah Daa asal Sangir, Amin asala Kotamobagu, Ulu asal Manado dan Jamal warga Poboya. Awalnya warga Poboya yang sebelumnya hanya menambang secara tradisonal meragukan keberhasilan para ahli tersebut.
Akhirnya tiga orang itupun meyewah kebun warga dijadikan arael pertambangan. Dari pertambangan ini, mereka menghasilkan 100 karung batu. Batu itupun kemudian dikirim ke Manado untuk diolah menggunakan tromol. Dari 100 karung batu tersebut dihasilkan kurang lebih 1 kilogram emas. Berita itupun meledak, buka hanya dikelurahan Poboya dan di kota Palu, namum, berita ibnilah yang membawa ribuan orang penambang dari Manado, Gorontalo, dan bekas penambang dari Bombana ( Sulawesi Tenggara).
1. apa yang dimaksut dengan fakta?
"Fakta adalah kejadian nyata yang dapat dibuktikan.
2. bagaimana fakta terjadi?
"dalam wacana di atas kurang sekali menyampaikan fakta, tetapi selal;u berisikan oponi-opini si penulis."
3.Darimana mulai menyusun fakta menjadi wacana?
"seharusnya fakta yang di ambil dangn menyaksikan langsung setiap kejadian yang di ceritakan."
4. apakah fakta perluh disampaikan atau tidak?
"faktanya harus disampaikan."
5. kalau perluh bagaiman menyampaikannya?
"fakta harus disampaikan dengan memperhatikan faktor-faktor sosial yang ada, agar tidak terjadi perselisihan yang lebih dalam lagi."
6. apakah fakta yang disapmpaikan benar-benar fakta atau bukan?
" wacana ini sebagian besar di isi oleh opini-opini belaka."
7. Apakah fakta yang disampaikan sudah memenuhi kaidah-kaidah komunikasi?
"fakta belum memenuhi kaidah-kaidah komunikasi."
CAUSA
1. CAUSA MATERIALIS
Sebab yang menjadi bahan dalam wacana ini, ialah Kelurah Poboya yang disebu warga untuk di jadikan areal pertambangan.
2. CAUSA FORMALIS
Wacana ini disusun atau dibentuk menjadi wacana yang memberitakan bagaimana sesungguhanya kelurahan Poboya itu sebelum dijadikan areal pertambangan dan sesudahnyta.
3. Causa efficient
Hasilnya dalam bentuk softnews
4. Causa finalis
Wacana ini bertujuan untuk membentuk pola pikir masyarakat agar selanjutnya areal pertambangan ini dapat di krerjakan dengan memperhatikan kondisi alam sekitar.
Jumat, 14 Mei 2010
Langganan:
Komentar (Atom)